Pengertian Sistem dan Sistem Informasi
|
mempengaruhi pencapaian keberhasilan organisasi.
Sebelum
lebih jauh membahas
tentang pengertian sistem dan sistem
informasi, mahasiswa sebaiknya terlebih dahulu memahami komponen dasar pembentuk sistem dan sistem informasi.
Komponen dasar dimaksud meliputi data dan informasi, yang didefinisikan pada uraian berikut ini.
A. DATA DAN INFORMASI
Dalam
berbagai pembicaraan maupun diskusi, sebagian
pihak sering menyamakan atau mempertukarkan antara
data dan informasi, namun secara konsepsi
keduanya berbeda. Hal tersebut dapat diterima jika terjadi dalam pembicaraan lisan, namun tidak demikian
bagi pihak-pihak yang memiliki pemahaman data dan
informasi dengan baik.
Data merupakan kata jamak dari datum, yang umumnya digunakan untuk merepresentasikan, baik bentuk tunggal
maupun jamak. Data sering dipahami sebagai fakta/kenyataan mentah atau hasil pengamatan (observasi), hasil mencacah, dan hasil
mengukur, yang masih belum diolah
dan disajikan dalam
konteks yang berarti
dan bermanfaat.
Pemahaman data sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya sesuai dengan
definisi data yang dikemukakan oleh McLeod (2001)
bahwa data terdiri
dari fakta-fakta dan angka-angka yang secara relatif
tidak berarti bagi pemakai. Definisi yang hampir sama juga dikemukakan oleh Ceriello dan Freeman (1991) bahwa
data merupakan angka-angka (numbers), kata-kata (words) atau
frase/ungkapan (phrases)
yang jika diolah atau diproses dapat menghasilkan informasi.
Mengacu pada definisi tersebut
di atas dapat dipahami bahwa data merupakan bentuk paling primitif dalam jenjang informasi, yang pada umumnya menggambarkan fenomena fisik, yang direpresentasikan dalam simbol-simbol seperti
angka-angka, kata-kata atau oleh kode-kode
yang terdiri dari gabungan numerik
dan karakter. Data juga dapat disebut sebagai
ukuran objektif (karakteristik) suatu entitas objek, seperti manusia,
tempat, benda, dan kejadian (event). Bentuk data dapat
berupa teks, data numerik, suara maupun citra.
Data
dapat dicontohkan antara lain berupa jumlah jam kerja tiap pegawai/karyawan dalam suatu perusahaan. Jika data tersebut
kemudian diproses, ia dapat
diubah menjadi informasi. Misalnya, jika jam kerja tiap pegawai dikalikan dengan upah per jam kerja akan menghasilkan
pendapatan kotor (bruto) pegawai.
Jika angka pendapatan kotor tiap pegawai dijumlahkan akan menghasilkan total biaya gaji pegawai perusahaan yang
bersangkutan. Total biaya gaji
tersebut dapat menjadi informasi bagi pemilik perusahaan (owner).
Selanjutnya, informasi didefinisikan sebagai
data yang telah diproses atau data
yang memiliki arti (McLeod, 2001). Data yang telah diproses atau diolah dan disajikan ke dalam konteks yang berarti dan bermanfaat akan menghasilkan informasi.
Dalam
konteks yang lebih luas, Ceriello
dan Freeman (1991) mendefinisikan
informasi sebagai data yang diorganisir, diformat, diurutkan, dan dipresentasikan dalam suatu bentuk yang logis dan siap untuk dianalisis dan diinterpretasikan
oleh pemakai akhir (end users).
Intinya adalah bahwa data merupakan sumber informasi yang diorientasikan kepada pemakai atau pengguna informasi yang tepat.
Terminologi data dan informasi
sering bertukar tempat dalam pemakaiannya. Meskipun demikian, data
tidak akan pernah berguna tanpa pengolahan
yang dapat memberikannya nilai tambah. Pengolahan yang dapat dilakukan
adalah dengan cara:
1.
mengubah data dalam suatu susunan
tertentu;
2.
menganalisis dan mengevaluasi isi data;
3.
menempatkan data dalam konteks
yang tepat bagi penggunanya.
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa
informasi dapat dipandang sebagai data yang telah diproses dalam konteks yang dapat memberikan nilai
(value) bagi pengguna yang spesifik. Perubahan
data menjadi informasi
dilakukan oleh pengolah atau pemroses informasi (information processor). Pengolah
informasi dapat berupa elemen-elemen komputer, elemen-elemen non- komputer atau kombinasi keduanya.
B. PENGERTIAN DAN KONSEP
SISTEM
Dasar
dari area konsep sistem informasi
adalah konsep sistem dan informasi. Untuk memahami konsep sistem
informasi, maka kunci utamanya adalah memahami
konsep sistem dan informasi terlebih
dahulu.
Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya bahwa informasi
memiliki arti yang sangat penting di dalam organisasi, sehingga sering diibaratkan sebagai darah yang mengalir di dalam tubuh suatu organisasi. Suatu sistem yang kurang mendapatkan informasi akan menjadi
luruh. Keadaan dari sistem dalam hubungannya dengan keberakhirannya disebut dengan istilah entropy.
Informasi yang berguna bagi sistem akan menghindari proses entropy tersebut yang disebut dengan negative entropy atau negentropy.
Pengertian sistem dapat ditelusuri dari sisi asal katanya, yakni
dari Bahasa Inggris
yang disebut sebagai
system. Seluruh Kamus Inggris-Indonesia menerjemahkan kata system sebagai
susunan (Echols dan Shadily, 1995). Misalnya
yang terdapat dalam kata sistem syaraf berarti
susunan syaraf, sistem
jaringan berarti susunan
jaringan, dan lain sebagainya.
Sistem
secara sederhana didefinisikan sebagai himpunan dari sekelompok elemen-elemen yang mempunyai keterkaitan
dan keterhubungan satu sama lainnya dan kesemuanya
itu membentuk satu kesatuan yang utuh. Secara formal, McLeod (2001) memberi batasan sistem
sebagai sekelompok elemen yang terintegrasi
dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan. Batasan sistem tersebut sesuai untuk suatu
organisasi atau perusahaan maupun suatu bidang
fungsional tertentu. Organisasi terdiri dari sejumlah sumber daya, dan sumber daya tersebut bekerja menuju
tercapainya suatu tujuan tertentu yang ditentukan oleh pemilik atau level manajemen/pimpinan.
Lebih lanjut Marimin et al. (2006) mendefinisikan sistem
sebagai suatu kesatuan usaha yang
terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha untuk mencapai suatu tujuan dalam suatu lingkungan
yang kompleks. Pengertian tersebut
mencerminkan adanya beberapa bagian dan hubungan antarbagian, yang menunjukkan kompleksitas dari sistem yang meliputi kerja sama antara bagian yang interdependen satu sama lain. Selain itu,
dapat dilihat bahwa sistem berusaha
mencapai tujuan. Pencapaian tujuan dimaksud
menyebabkan timbulnya dinamika, perubahan yang terus-menerus perlu dikembangkan dan dikendalikan.
Mengacu pada definisi atau pengertian sistem
sebagaimana yang telah
diuraikan, dapat dinyatakan bahwa sistem sebagai gugus dari elemen-elemen yang saling berinteraksi secara teratur.
Interaksi tersebut adalah dalam rangka mencapai
tujuan atau subtujuan. Sistem juga terdiri dari berbagai macam, antara lain sistem terbuka, sistem tertutup, dan sistem dengan
umpan-balik (feedback).
Berdasarkan definisi sistem, kita dapat memahami bahwa sesuatu dapat dinyatakan sebagai sistem apabila memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut.
1.
Sistem harus dibentuk
untuk menyelesaikan tujuan.
2.
Elemen sistem harus mempunyai rencana yang ditetapkan.
3.
Adanya hubungan di antara elemen
sistem.
4.
Unsur dasar dari proses (arus informasi, energi,
dan material) lebih penting dari pada
elemen sistem.
5.
Tujuan organisasi lebih penting dari pada tujuan
elemen.
Dalam
area sistem informasi, terminologi sistem digunakan
untuk menjelaskan sekumpulan
komponen-komponen yang berkaitan satu sama lain yang bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan umum, yaitu dalam menerima masukan-masukan dan menghasilkan keluaran-keluaran dalam
suatu proses transformasi
yang terorganisir. Sistem yang demikian sering disebut sebagai suatu sistem
yang dinamis.
Pada prinsipnya, sistem terdiri atas komponen-komponen atau fungsi utama sebagai berikut.
1.
Masukan (Input), mencakup
elemen-elemen yang bertugas
dalam pemasukan (entry) ke dalam sistem untuk diproses
lebih lanjut. Misalnya, bahan mentah,
energi, data, dan upaya-upaya orang yang dibutuhkan untuk diproses lebih lanjut.
2.
Pemrosesan/Transformasi (Processing), melibatkan proses
transformasi yang mengonversi atau
mengubah masukan menjadi keluaran di dalam sistem.
Misalnya, proses pengolahan bahan baku dalam suatu industri manufaktur,
proses pernafasan manusia, perhitungan-perhitungan data, dan lain-lain.
3.
Keluaran (Output), mencakup elemen-elemen hasil transformasi melalui berbagai
proses pengolahan yang ada dalam
sistem sebagaimana yang
dikehendaki. Misalnya, berbagai jenis produk
susu olahan, pelayanan- pelayanan, hasil perhitungan tertentu, dan lain-lain.
Dalam konsep sistem, terdapat dua
komponen tambahan yang sering tercakup
dalam pembahasan sistem secara keseluruhan. Kedua komponen dimaksud
adalah umpan-balik (feedback) dan kendali sistem
(control). Sistem
dengan kedua komponen tersebut sering disebut sebagai sistem sibernetik (cybernetic), yaitu suatu sistem yang melakukan
monitoring sendiri dan pengaturan sendiri.
Umpan-balik sistem pada prinsipnya merupakan data kinerja (performance) sistem, dan sering dimasukkan sebagai bagian dari fungsi pengendalian karena perannya yang
penting dalam proses pengendalian. Adapun kendali sistem merupakan fungsi utama sistem dalam memonitor dan mengevaluasi
umpan- balik untuk menentukan apakah sistem berjalan
menuju arah yang dikehendaki atau ditemukan adanya
kelainan-kelainan.
Dengan demikian, apabila terjadi
kelainan-kelainan berbagai perbaikan masukan dan keluaran maupun
proses atau transformasi dapat dilakukan untuk
memperoleh hasil yang diharapkan. Baik umpan-balik maupun kendali sistem pada prinsipnya berperan saling
menunjang dalam upaya meyakinkan bahwa sistem benar-benar telah berjalan sesuai dengan harapan.
Uraian tersebut di atas menggambarkan
bahwa sifat dasar sistem adalah pencapaian tujuan,
kesatuan usaha atau upaya, keterbukaan terhadap lingkungan, proses atau transformasi, hubungan antarbagian, dan adanya mekanisme pengendalian. Pengertian sistem sebagaimana yang telah dijelaskan secara skematis dapat dilihat pada
Gambar 1.1, yang dikenal dengan Model Umum Sistem.
Suatu
sistem yang berjalan
dengan baik akan menghasilkan suatu umpan- balik yang positif, yang memberikan
sinyal kepada fungsi kendali agar tetap memelihara
keadaan sistem sebagaimana adanya karena sistem telah berjalan sesuai dengan harapan. Selanjutnya, sistem
yang berjalan tidak sesuai dengan harapan
akan menghasilkan umpan-balik yang negatif. Dalam dunia nyata, keadaan sistem cenderung menghasilkan
penyimpangan-penyimpangan dari tujuan
semula. Dalam kondisi yang demikian, fungsi kendali akan senantiasa memonitor umpan-balik dan berupaya untuk
mengurangi berbagai kelainan tersebut
dengan menggunakan kinerja
sistem terdahulu sebagai
acuan/patokan.


![]() |
Gambar 1.1.
Model
Umum Sistem
Pada prinsipnya, fungsi kendali sistem
dapat dilakukan dengan:
1. mendeteksi umpan-balik dengan suatu alat pendeteksi;
2. mengukur ukuran, kuantitas, arah atau intensitas dari umpan-balik;
3. membandingkan hasil sistem dengan
standar kinerja yang tepat;
4.
menyampaikan sinyal kendali untuk melakukan tindak
koreksi ataupun perubahan terhadap komponen sistem
lainnya;
5. memelihara kondisi
sistem tetap sebagaimana yang dikehendaki.
1. Subsistem dan Suprasistem serta Keterkaitannya di dalam Sistem
Sistem
bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri,
namun berada dalam lingkungan yang juga memiliki sistem lain. Suatu
sistem juga memiliki bagian- bagiannya
yang disebut dengan subsistem. Contoh subsistem dalam sistem kepegawaian negara, terdiri dari subsistem perencanaan pegawai, mutasi, pensiun, kompensasi atau penggajian, informasi kepegawaian, tata usaha kepegawaian, dan lain-lain.
Bagi suatu sistem, bagian lain di
luarnya disebut dengan lingkungan (environment).
Istilah lain yang paralel untuk mendeskripsikan hal tersebut adalah suprasistem, di mana sistem
merupakan bagian dari sistem yang lebih besar. Contohnya adalah kepegawaian daerah adalah
suatu sistem, tetapi ia juga merupakan
bagian dari sistem yang lebih besar, yakni kepegawaian negara. Kepegawaian negara merupakan suprasistem dari kepegawaian daerah
dan juga merupakan subsistem dari pemerintahan nasional.
Masing-masing subsistem dan suprasistem haruslah selalu dapat berhubungan dan berinteraksi melalui komunikasi yang relevan sehingga sistem dapat bekerja secara efektif dan
efisien. Oleh karena itu, dalam menganalisis
sistem, perlu dibatasi sejauh mana
sistem dimaksud akan dianalisis, dipisahkan dari lingkungannya dan sistem lain. Batas tersebut
disebut sebagai batas sistem (system
boundary). Beberapa sistem yang ada dalam lingkungan yang sama dapat saling berhubungan atau mempunyai
batas yang saling berkaitan, yang disebut
dengan interface (penghubung).
Keterkaitan antara sistem, subsistem, dan suprasistem tersebut dapat diringkas
melalui Gambar 1.2.
Uraian di atas memperlihatkan bahwa
pandangan maupun pendekatan terhadap sistem (systems view/approach) melihat semakin dirasakannya interdependensi dari berbagai
bagian dalam mencapai tujuan sistem. Masalah- masalah
yang dihadapi pada saat ini tidak lagi sederhana dan dapat menggunakan peralatan yang menyangkut satu disiplin saja, tetapi memerlukan peralatan yang lebih komprehensif, yang dapat mengidentifikasi dan memahami berbagai aspek dari suatu permasalahan
dan dapat mengarahkan pemecahan secara menyeluruh.
![]() |
Suprasistem Sistem
Gambar 1.2.
Sistem, Subsistem, dan Suprasistem
Melalui pandangan terhadap sistem diharapkan dapat:
a.
mencegah manajemen/pimpinan tersesat dalam kerumitan struktur
organisasi dan rincian
pekerjaan;
b. menyadari perlunya
memiliki tujuan-tujuan yang baik;
c.
menekankan pentingnya
kerja sama dari semua bagian dalam organisasi;
d. mengakui keterkaitan organisasi dengan lingkungannya;
e.
memberi penilaian yang tinggi pada informasi umpan-balik.
Meskipun demikian, penggunaan pendekatan secara sistem tidak terbebas dari
kelemahan. Pendekatan sistem memang memberikan gambaran yang lebih luas mengenai variabel-variabel
yang harus ditangani dalam mengelola suatu sistem organisasi. Namun, di lain pihak, pendekatan sistem memiliki kelemahan, yaitu menambah kompleksitas analisis, yang kadang kala mengakibatkan kebingungan terutama
bagi pengguna pemula.
Pendekatan sistem juga menghendaki sikap yang kritis
dan ilmiah, kontra
dengan sikap yang instan tanpa pengolahan lebih lanjut lagi. Di dalam pendekatan sistem,
seseorang dituntut bersikap
kritis dan mempunyai
kemampuan diagnostik yang dapat memahami setiap permasalahan dalam kaitannya
dengan lingkungan yang dihadapi.
2. Klasifikasi Sistem
Dari berbagai sudut pandang, sistem dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
a.
Sistem
Alamiah (Natural System) dan Sistem Buatan Manusia (Human Made System)
Sistem alamiah, sistem terjadi karena proses alam dan tidak
terdapat campur tangan manusia.
Adapun sistem buatan manusia dirancang dan diciptakan
oleh manusia. Contoh dari sistem alamiah adalah sistem rotasi bumi, sistem tata surya, dan lain-lain,
sedangkan sistem buatan misalnya sistem
pengendalian banjir, sistem tata kota, dan lain sebagainya. Sistem buatan
manusia ini sering melibatkan interaksi manusia dengan mesin yang disebut dengan human-machine
system.
b.
Sistem
Tertutup (Closed System) dan Sistem Terbuka (Open System) Sistem tertutup
merupakan sistem yang bekerja tidak berhubungan dengan lingkungan luarnya. Adapun sistem
terbuka merupakan sistem
yang selalu berhubungan dengan lingkungan luarnya
untuk melakukan proses untuk menghasilkan keluaran (output). Secara teoritis, sistem tertutup memang
ada, namun pada kenyataannya tidak pernah ada sistem yang benar-benar tertutup tanpa campur tangan pihak luar.
Pengklasifikasian sistem
juga dapat dibagi
berdasarkan sistem konseptual atau abstrak dan sistem fisik. Secara garis besar, kedua sistem dapat dijelaskan sebagai
berikut.
a.
Sistem Konseptual atau Abstrak (Conceptual/Abstract System)
Sistem yang dibentuk akibat terselenggaranya ketergantungan ide dan tidak dapat diidentifikasikan secara nyata, tetapi dapat diuraikan elemennya. Contoh sistem yang bersifat konseptual adalah sistem sosial,
sistem ekonomi, dan sistem teologi
(hubungan antara manusia
dengan Tuhan).
b. Sistem Fisik
(Physical System)
Kumpulan elemen-elemen atau unsur-unsur yang saling
berinteraksi satu sama lain secara
fisik serta dapat diidentifikasikan secara nyata tujuan- tujuannya. Contoh sistem yang bersifat fisik adalah:
a.
sistem tata surya, sistem biologis tubuh manusia, sistem pengolahan minyak,
sistem komputer, dan sebagainya;
b.
sistem transportasi, dengan elemen-elemennya meliputi: petugas, mesin,
dan organisasi yang menjalankan transportasi;
c.
sistem komputer, dengan elemen-elemennya meliputi: peralatan yang
berfungsi bersama-sama untuk menjalankan pengolahan data.
Selain
pembagian sistem sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, sistem juga dapat dilakukan diklasifikasikan sebagai berikut.
a.
Deterministik Sistem
Deterministik Sistem merupakan
sistem di mana operasi-operasi (masukan/keluaran) yang terjadi di dalamnya dapat ditentukan atau diketahui dengan
pasti. Contohnya adalah:
1)
program komputer, melaksanakan secara tepat sesuai dengan rangkaian instruksinya;
2)
sistem penggajian.
b. Probabilistik Sistem
Sistem di mana masukan dan prosesnya dapat didefinisikan, tetapi keluaran yang dihasilkan tidak dapat
ditentukan dengan pasti (selalu ada sedikit kesalahan atau penyimpangan terhadap
ramalan jalannya sistem).
Contohnya adalah:
1) sistem penilaian
ujian;
2) sistem pemasaran.
c.
Sistem Terbuka (Open System)
Sistem yang mengalami pertukaran energi, materi atau
informasi dengan lingkungannya.
Sistem ini cenderung memiliki sifat adaptasi, yakni dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya,
sehingga dapat meneruskan eksistensinya. Contohnya adalah:
Sistem keorganisasian yang memiliki kemampuan adaptasi
(bisnis dalam menghadapi persaingan dari pasar yang berubah, di
mana perusahaan yang tidak dapat menyesuaikan diri akan tersingkir).
d. Sistem Tertutup (Closed System)
Sistem fisik di mana proses yang
terjadi tidak mengalami pertukaran materi, energi atau informasi dengan lingkungan di luar sistem tersebut. Contohnya adalah:
Reaksi kimia dalam tabung
berisolasi dan tertutup.
e.
Sistem Tertutup
Relatif (Relatively Closed
System)
Sistem yang tertutup tetapi tidak tertutup sama sekali
untuk menerima pengaruh-pengaruh
lain. Sistem ini dalam operasinya dapat menerima pengaruh dari luar yang sudah didefinisikan dalam batas-batas
tertentu. Contohnya adalah:
Sistem komputer, sistem ini hanya menerima masukan
yang telah ditentukan sebelumnya, mengolahnya, dan memberikan keluaran yang juga telah ditentukan sebelumnya serta tidak
terpengaruh oleh gejolak di luar sistem).
f.
Sistem Artifisial (Artificial System)
Sistem ini meniru kejadian dalam alam, yang dibentuk berdasarkan kejadian di alam di mana manusia tidak mampu melakukannya.
Dengan kata lain tiruan yang ada di alam.
Contohnya adalah:
1)
sistem Artificial Intelligent (AI), yaitu program komputer yang mampu membuat komputer
seolah-olah berpikir;
2) sistem robotika;
3) jaringan neutral network.
g. Sistem Alamiah
(Natural System)
Sistem
ini dibentuk dari kejadian dalam alam. Contohnya adalah: laut, pantai,
atmosfer, tata surya, dan lain-lain.
h. Sistem Penjelasan Tingkah Laku (Manned
System)
Sistem penjelasan tingkah laku yang meliputi keikutsertaan manusia. Sistem ini dapat digambarkan dalam cara-cara sebagai berikut.
1)
Sistem Manusia-Manusia
Sistem yang menitik
beratkan hubungan antar manusia.
2) Sistem Manusia-Mesin
Sistem yang mengikutsertakan mesin untuk suatu tujuan.
3) Sistem Mesin-Mesin
Sistem yang otomatis
di mana manusia mempunyai tugas untuk memulai dan mengakhiri sistem, sementara itu manusia dilibatkan juga untuk memonitor sistem. Mesin
berinteraksi dengan mesin untuk melakukan beberapa
aktivitas. Pengotomatisan ini menjadikan bertambah pentingnya konsep organisasi, di mana manusia dibebaskan dari tugas-tugas rutin
atau tugas-tugas fisik yang berat.
C. PENGERTIAN DAN KONSEP
SISTEM INFORMASI
Sejak
permulaan peradaban, manusia
sudah bergantung pada sistem informasi
untuk berkomunikasi antara satu dengan yang lain dengan menggunakan berbagai jenis instrumen/alat
fisik (hardware), perintah dan prosedur pemrosesan informasi (software), saluran
komunikasi (jaringan), dan data yang
disimpan (sumber daya data).
Perkembangan Sistem Informasi melalui
alat pengolah data sejak
jaman purba hingga
saat ini dapat digolongkan ke dalam 4 (empat) golongan
besar, yakni:
1.
Peralatan Manual, yaitu peralatan pengolahan data yang sangat sederhana, di mana faktor terpenting dalam pemakaian alat adalah
menggunakan tenaga tangan manusia.
2.
Peralatan Mekanik, yaitu peralatan
yang sudah berbentuk mekanik yang digerakkan dengan
tangan secara manual.
3.
Peralatan Mekanik Elektronik, yaitu
peralatan mekanik yang digerakkan secara otomatis
oleh motor elektronik.
4. Peralatan Elektronik, yaitu peralatan yang bekerjanya secara elektronik.
Secara sederhana, sistem informasi dipahami
sebagai suatu himpunan
atau kumpulan dari kelompok
orang-orang yang bekerja, prosedur-prosedur, dan sumber daya peralatan yang mengumpulkan data dan mengolahnya
menjadi informasi, merawat,
dan menyebarkan informasi
dalam suatu organisasi.
Marimin et al. (2006) menyederhanakan pemahaman terhadap sistem informasi sebagai komponen-komponen dalam organisasi atau perusahaan yang berhubungan
dengan proses penciptaan dan pengaliran informasi yang akan digunakan
oleh satu atau lebih pemakai
(users). Para pemakai biasanya
tergabung dalam suatu entitas organisasi formal, seperti departemen atau lembaga
suatu instansi pemerintahan yang dapat dijabarkan menjadi direktorat, bidang,
bagian sampai pada unit
terkecil di bawahnya.
Sistem informasi memuat berbagai
informasi penting mengenai orang, tempat,
dan segala sesuatu yang ada di dalam atau di lingkungan sekitar organisasi. Informasi menjelaskan mengenai
organisasi atau salah satu sistem utamanya
mengenai apa yang telah terjadi pada masa lalu, apa yang sedang terjadi sekarang, dan apa yang mungkin
akan terjadi pada masa yang akan datang tentang
organisasi tersebut.
Setiap
membicarakan tentang sistem informasi, maka di dalam benak setiap orang akan terbayang
tentang komputer, di mana suatu sistem informasi pasti akan menggunakan komputer. Secara historis, gagasan tentang sistem informasi sudah ada sebelum muncul komputer. Pada
masa itu, sistem informasi telah digunakan untuk memberikan informasi
kepada pihak manajemen
untuk membuat keputusan
dan melakukan kontrol operasi. Munculnya komputer telah menambah satu atau lebih dimensi, seperti
kecepatan, akurasi, peningkatan volume
data, dan lain-lain yang memberikan lebih banyak alternatif dalam pengambilan keputusan. Jadi, sistem informasi bukanlah
hal yang baru, komputerisasinyalah yang terus menerus
mengalami pembaharuan. Perkembangan lebih lanjut memunculkan
istilah sistem informasi berbasis komputer
(computer based information system/CBIS),
yakni sistem informasi yang
menggunakan sumber daya komputer (perangkat lunak dan keras) serta manusia dalam melakukan aktivitasnya untuk
mentransformasi data menjadi produk informasi
bagi kepentingan pengguna
akhir (end-users). Dengan penggunaan teknologi
komputer sebagai basis dalam sistem informasi diharapkan informasi yang akan dihasilkan dapat lebih akurat, berkualitas, tepat
waktu, dan tepat sasaran, sehingga pengambilan keputusan dapat lebih
efektif dan efisien.
Sistem Informasi berbasis komputer yang berkembang hingga saat ini telah mengalami proses evolusi yang cukup
panjang. Proses tersebut dapat dibagi berdasarkan tahapan-tahapan sebagai berikut.
1.
Fokus Awal pada Data
Selama paruh pertama
Abad ke-20, perusahaan pada umumnya mengabaikan kebutuhan informasi para manajer. Pada fase ini, penggunaan komputer hanya terbatas pada aplikasi akuntansi. Nama aplikasi akuntansi
berbasis komputer pada awalnya adalah Pengolahan Data Elektronik (Electronic Data Processing/EDP) kemudian
berubah menjadi Data Prosesing
(DP) dan Sistem
Informasi Akuntansi (SIA).
2. Fokus Baru pada
Informasi
Pada Tahun 1964 diperkenalkan satu generasi baru alat
penghitung yang mempengaruhi cara penggunaan komputer. Konsep
penggunaan komputer sebagai sistem informasi dipromosikan
oleh pembuat komputer untuk mendukung
peralatan baru tersebut. Konsep sistem informasi menyadari bahwa aplikasi komputer
harus diterapkan untuk tujuan utama menghasilkan
informasi manajemen. Konsep ini segera diterima oleh perusahaan besar.
3. Fokus Revisi pada Pendukung Keputusan
Sistem pendukung keputusan
(Decision Support System/DSS) merupakan
sistem penghasil informasi yang ditujukan pada suatu masalah tertentu yang harus dipecahkan oleh manajer dan keputusan yang harus dibuat
manajer. Manajer tersebut
berada pada bagian manapun dalam organisasi, pada tingkat manapun, dan dalam area
bisnis apapun.
D. KOMPONEN SISTEM INFORMASI
Pada dasarnya sistem informasi merupakan
suatu sistem yang dibuat oleh manusia, yang terdiri dari komponen-komponen dalam organisasi untuk mencapai suatu tujuan yaitu menyajikan informasi. Sistem informasi di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan
pengolahan transaksi, mendukung
operasi, bersifat manajerial, dan kegiatan strategi
dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar
tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.
Sistem informasi menerima masukan data
dan instruksi, mengolah data tersebut
sesuai instruksi, dan mengeluarkan hasilnya. Model dasar sistem menghendaki agar masukan, pengolahan, dan keluaran tiba pada saat bersamaan, yang sebaiknya sesuai untuk sistem pengolahan informasi yang
paling sederhana, di mana semua masukan tersebut tiba pada
saat bersamaan, meskipun hal tersebut jarang
terjadi.
Fungsi
pengolahan informasi sering membutuhkan data yang telah dikumpulkan
dan diolah dalam periode waktu sebelumnya. Oleh karena itu ditambahkan sebuah penyimpanan data file (data file storage) ke dalam model sistem
informasi. Dengan demikian, kegiatan pengolahan tersedia baik bagi data baru maupun data yang telah dikumpulkan dan disimpan sebelumnya.
Burch dan Grudnitski (1989)
mengemukakan bahwa sistem informasi terdiri
dari komponen-komponen yang disebutnya sebagai blok pembangun (building block). Blok pembangun ini
kemudian dibagi menjadi Blok Masukan (Input Block), Blok Model (Model Block), Blok Keluaran (Output Block), Blok Teknologi (Technology Block), Blok Basis Data (Database Block), dan Blok Kendali
(Controls Block). Komponen sistem informasi tersebut
secara ringkas dapat
dilihat pada Gambar 1.3.
Pada Gambar 1.3 dapat dilihat bahwa sistem informasi memiliki komponen- komponen yang
saling terintegrasi membentuk satu kesatuan dalam mencapai sasaran sistem. Secara rinci,
komponen-komponen yang membentuk Blok Pembangun Sistem
Informasi tersebut dapat
dijelaskan pada uraian
berikut ini.
![]() |
Pengguna Pengguna
Pengguna Pengguna
Gambar 1.3.
Blok
Sistem Informasi yang Saling Berinteraksi
1. Blok Masukan (Input Block)
Blok masukan dalam sebuah sistem
informasi meliputi metode-metode dan media untuk menangkap
data yang akan dimasukkan, dapat berupa dokumen-dokumen dasar.
2. Blok Model (Model
Block)
Blok model ini terdiri dari kombinasi prosedur, logika, dan
model-model yang berfungsi
untuk memanipulasi data masukan dan data yang tersimpan
di dalam basis data, sehingga menjadi keluaran (informasi) tertentu yang diinginkan.
3. Blok Keluaran
(Output
Block)
Blok keluaran berupa berbagai data keluaran, seperti
dokumen keluaran (output)
dan informasi yang berkualitas yang berguna untuk semua pemakai.
4.
Blok Teknologi (Technology Block)
Blok teknologi digunakan
untuk menerima masukan
(input), menjalankan model, menyimpan dan menelusuri/mengakses data, menghasilkan
dan mengirimkan keluaran serta
membantu pengendalian dari sistem secara keseluruhan. Blok teknologi ini merupakan komponen
bantu yang memperlancar proses pengolahan
yang terjadi dalam sistem.
5.
Blok Basis Data
(Database Block)
Kumpulan dari data yang saling berhubungan satu dengan
lainnya dan tersimpan pada suatu perangkat
keras (biasanya komputer) dan digunakan perangkat lunak untuk memanipulasinya.
6.
Blok Kendali
(Controls Block)
Pencegahan hal-hal yang dapat merusak
sistem dan penanggulangan masalah pengendalian terhadap
operasional sistem secara cepat, tercakup di
dalamnya aspek pencegahan dan penanganan terhadap kesalahan atau kegagalan
sistem serta integrasi dan pengembangan sistem.
E. MODEL SISTEM INFORMASI
Pada prinsipnya, sistem informasi dapat
dibedakan dalam 2 (dua) model, yakni berdasarkan komponen aktivitasnya dan aktivitas sistem informasi. Sistem informasi
menggunakan sumber daya perangkat keras (hardware),
sumber daya perangkat lunak (software, program, dan prosedur), dan
sumber daya manusia (pengelola dan pengguna) untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas pemasukan
data, pengolahan
data dalam menghasilkan informasi, penyimpanan data dan atau informasi, produksi informasi serta aktivitas pengendalian sistem informasi.
1. Komponen sumber daya Informasi
Komponen sumber daya informasi dapat dilihat dari sisi sumber daya yang ada, yang meliputi:
a.
Perangkat/Peranti
Keras (Hardware)
Bagian ini merupakan bagian perangkat keras sistem informasi, yang terdiri dari mesin dan media yang
digunakan untuk melakukan aktivitas sistem informasi.
Sistem informasi modern memiliki perangkat keras berupa komputer (Central
Processing Unit/CPU, unit masukan/keluaran, unit penyimpanan data atau informasi dalam bentuk file, dan sebagainya), peralatan
penyimpanan data, dan peralatan nonkomputer. Contoh perangkat keras dalam sistem informasi
berbasis komputer antara lain komputer mainframe, mini computer, dan micro computer, yang di dalamnya
tercakup peralatan pemasukan data, pengolahan data, penyimpanan data, dan keluaran
data/informasi, peripheral penunjang
komunikasi (untuk jaringan komputer),
dan komputer lainnya. Adapun media yang digunakan dapat saja berupa media kartu elektronik (smart card), kertas, media penyimpanan piringan magnetik, dan lain-lain.
b.
Perangkat/Peranti
(Software)
Bagian ini merupakan
bagian perangkat lunak sistem informasi yang
meliputi semua prosedur
operasi yang diperlukan oleh program komputer
dan prosedur operasi yang diperlukan oleh manusia, misalnya prosedur kerja,
manual, dan lain-lain. Sistem informasi modern
memiliki perangkat lunak untuk memerintahkan komputer
melaksanakan tugas yang harus dilakukannya. Perangkat
lunak dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok,
yaitu:
1)
Perangkat Lunak Sistem, seperti
Sistem Operasi, Sistem Utilitas, dan Sistem
Komunikasi, misalnya Program Microsoft
Windows, LINUX, Novel Netware, Anti Virus, Norton Utilities, Disk Doctor, dan lain- lain.
2) Perangkat Lunak Aplikasi, yang dapat dibagi berdasarkan:
a)
Perangkat Lunak Aplikasi yang bersifat Umum, seperti Pengolah
Data (Word Processing), Pengolah
Angka (Spreadsheet), Manajemen Basis Data, Aplikasi
Statistika, Aplikasi Riset Operasi, dan lain-lain.
b)
Perangkat Lunak Aplikasi yang bersifat Khusus,
yang terdiri dari program yang secara spesifik dibuat untuk aplikasi tertentu.
3)
Perangkat Lunak Bahasa Pemrograman, yang dapat dibagi berdasarkan:
a)
Bahasa Pemrograman Tingkat Tinggi,
seperti Visual Foxpro, Bahasa C
dan C ++, Borland, Basic, Visual Basic, Pascal, dan lain-lain.
b)
Bahasa Pemrograman Tingkat Rendah, seperti Bahasa
Mesin dan Bahasa
Assembler.
c.
Data dan Informasi
Merupakan komponen dasar dari informasi yang akan diproses
lebih lanjut untuk menghasilkan informasi. Contohnya
adalah dokumen bukti-bukti transaksi,
nota, kuitansi, dan lain-lain. Selanjutnya, data yang diolah dan disajikan
dalam konteks yang berarti dan bermanfaat untuk menghasilkan informasi. Data yang telah diolah menjadi
informasi kemudian digunakan
dalam proses pengambilan keputusan, di mana keterkaitan di antara ketiganya dikenal dengan siklus informasi (information cycle). Data diolah menjadi informasi yang digunakan untuk
pengambilan keputusan dan berikutnya
menghasilkan data baru yang kemudian ditangkap menjadi masukan untuk diolah kembali menjadi
informasi, dan seterusnya membentuk suatu siklus.
d. Prosedur
Merupakan bagian yang berisikan dokumentasi prosedur atau proses-proses yang terjadi dalam
sistem. Prosedur dapat berupa buku-buku penuntun operasional (instruksi), antara lain prosedur sistem pengendalian intern atau buku penuntun teknis,
seperti buku manual menjalankan program
komputer untuk pemakai,
untuk penyiapan masukan, dan lain-lain.
e.
Manusia (Humanware/Brainware)
Salah satu perangkat yang paling penting dari sistem
informasi adalah manusia sebagai
pengelola informasi. Oleh karena itu, hubungan antara sistem informasi dengan
pengelolanya sangat erat. Sistem informasi
yang dibutuhkan sangat
tergantung dari kebutuhan pengelolanya. Pengelola sistem informasi terorganisasi dalam suatu struktur manajemen.
Sebagai bagian utama dalam suatu sistem informasi, manusia dapat meliputi:
1)
Operator (Clerical Personnel), untuk penyiapan data, menangani transaksi, merespons permintaan, pemrosesan data, dan lain-lain.
2)
First
Level Manager, untuk mengelola pemrosesan data didukung dengan perencanaan, penjadwalan,
identifikasi situasi di luar kendali (out-of-control), dan pengambilan keputusan
pada level menengah ke bawah.
3)
Analis Sistem dan Programmer (Staff Specialist), digunakan untuk
analisis perencanaan dan pelaporan.
4)
Pimpinan Sistem (Management), untuk pembuatan laporan
berkala, permintaan khusus,
analisis khusus, laporan
khusus, pendukung identifikasi masalah dan peluang serta pendukung analisis pengambilan keputusan. Tingkatan atau level manajemen
dapat dibagi atas:
a)
Manajemen Level Atas, yakni untuk perencanaan strategis, kebijakan, dan pengambilan keputusan.
b)
Manajemen Level Menengah, yakni untuk perencanaan taktis dan pengambilan keputusan.
c)
Manajemen Level Bawah, yakni untuk perencanaan dan pengawasan operasi
serta pengambilan keputusan.
F.
AKTIVITAS SISTEM INFORMASI
Aktivitas utama sistem informasi meliputi perhitungan, perbandingan, penyortiran, pengklasifikasian, dan perangkuman serta penyimpulan. Keluaran
dari kegiatan pengolahan data adalah
informasi dalam bentuk
grafik/citra, film, teks,
dan audio yang disajikan serta ditampilkan di media layar (video atau
monitor), media cetak (kertas, film atau slide), dan media penyimpanan (memori komputer, tape, hard disk,
floppy disk, compact disk, flash disk,
dan lain-lain). Keluaran dari kegiatan pengolahan
ini sering disebut sebagai Produk Informasi. Kegiatan penyimpanan data meliputi aspek organisasi data dalam media penyimpanan yang memudahkan penambahan data baru, pemutakhiran data (data update), pelacakan data (searching/browsing), penghapusan data, validasi
data, dan pengambilan data (data retrieval).
Data dan informasi dapat disimpan dalam beberapa model,
yakni:
1. Basis Data (Database), yang berisi koleksi terpadu dari sejumlah data yang saling berkaitan.
2. Basis Model (Model Base), yang berisi koleksi terpadu dari model konsep, matematika, dan logika yang saling berkaitan dan mengekspresikan relasi, prosedur penghitungan, dan metode analisis.
3. Basis Pengetahuan (Knowledge Base), yang berisi koleksi terpadu pengetahuan dalam bentuk norma dan kaidah (rules) dan fakta (facts) yang memungkinkan proses penarikan kesimpulan (inferensi). Basis ini merupakan basis data dari sistem pakar (expert system).
Secara umum, untuk menggambarkan
bagaimana aktivitas utama sistem informasi
yang melibatkan semua sumber daya yang ada (perangkat keras, perangkat lunak, dan manusia) dalam mengubah data menjadi produk informasi, yang nantinya digunakan oleh penggunanya dan dapat digambarkan dalam suatu diagram matriks komponen sistem informasi
(O’Brien, 2004). Matriks
tersebut dapat digunakan
sebagai dokumen global yang berisi komponen-komponen yang membentuk sistem informasi
(Gambar 1.4).
|
Aktivitas Utama Sistem Informasi |
Sumber Daya |
Produk Informasi |
||||||
|
Perangkat Keras dan Jaringan |
Perangkat Lunak |
Manusia |
Data |
|||||
|
Media |
Mesin |
Program |
Prosedur |
Pengguna |
Spesialis |
|||
|
Masukan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pengolahan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Keluaran |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Penyimpanan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Kendali |
|
|
|
|
|
|
|
|
Gambar 1.4.
Matriks Komponen Suatu Sistem Informasi
Matriks sebagaimana yang tersaji pada Gambar 1.4 menggambarkan sistem informasi sebagai suatu bentuk matriks dari seluruh sumber daya dan produk serta kegiatan utama. Melalui matriks tersebut dapat diketahui bagaimana aktivitas-aktivitas utama sistem informasi (masukan, pengolahan, keluaran, penyimpanan, dan pengendalian) dilaksanakan serta bagaimana penggunaan seluruh sumber daya yang ada (perangkat keras, perangkat lunak, dan manusia) dalam menunjang proses konversi data menjadi suatu produk informasi. Selain itu, melalui matriks tersebut dapat juga dijawab pertanyaan sumber daya apa yang diperlukan untuk melakukan berbagai aktivitas yang dapat menghasilkan produk informasi sesuai harapan pengguna.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar